Epilog Bulan Suci

“Eh coy, Lebaran tanggal berapa jadinya?”
“1 Syawal, Pak”
IMHO, jokes di atas harusnya segera punah.

Ditemani puncak arus mudik dan fenomena #BREXIT (Brebes Exit), penulis mencoba merangkum dengan singkat apa yang telah kita lalui selama Ramadhan 1437 H.

Mengilhami bulan suci Ramadhan berarti memaknai apa yang kita lalui bersamanya.

Bagi sebagian mayoritas umat Muslim, Ramadhan tahun ini mungkin sama seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Sahur, Berpuasa, Berbuka, Tarawih. Menyiapkan lebaran dan merayakan suka cita.

Namun bagi sebagian yang lain, mereka bersahur duka dan berpuasa bahagia. Mereka tidak membeli pakaian baru, melainkan kain kafan. Shalat jenazah mendahului shalat Ied.
– Baghdad & Medina Bombing, June 2016

Ya, setiap umat muslim mempunyai cerita masing-masing yang sudah Allah SWT takdirkan pada Ramadhan tahun ini, dan peran kita disini sebagai umatnya adalah sesederhana bagaimana kita mengilhami skenario tersebut.

Selain berita duka tersebut, hal menakutkan lain yang terjadi pada bulan Ramadhan adalah menemukan bahwa selama ini bukanlah Setan, melainkan diri kita sendiri yang sebenarnya seorang pendosa.

Menemukan bahwa ternyata diri kita sendiri yang terbiasa memerintahkan lidah kita ketika mengutuk. Bahwa ternyata kita sendiri yang menyimpan dendam di antara sesama. Bahwa ternyata kita sendiri yang sering meninggikan angkuh, mendewakan emosi sesaat, ataupun menghamburkan harta demi perayaan semu.

– Pada bulan Ramadhan, ditunjukan jati diri kita yang sebenarnya.

But, look at the bright side.
Every saint has a past, every sinner has a future, and every Muslim has Ramadan.

Ramadhan tidak lain merupakan ajang perbaikan diri. Sebuah kesempatan dan juga tantangan. Kemuliaan bulan suci dibungkus dengan kegiatan-kegiatan yang telah dibuktikan dengan pendekatan sains maupun sosial seperti khasiat medis berpuasa, faedah shalat malam, manfaat zakat terhadap sosial masyarakat, maupun teori delay gratification dari puasa, dll. (silahkan nanti cari sendiri ya).

Intinya, momen bulan Ramadhan adalah saatnya kita untuk memanen kemuliaan tersebut tuk ber-Continuous Improvement. Saatnya Fastabiqul Khairat sebanyak-banyaknya, dan bukan sebaliknya dihabiskan mengejar dunia.

Satu lagi yang spesial dari bulan suci Ramadhan adalah Hari Raya Idulfitri. Bicara bulan Puasa maka tak lepas dari Lebaran.

Hari Raya Idulfitri benar adanya merupakan momentum, namun apabila kita beranggapan Hari Raya Idulfitri adalah satu hari pengampunan dan pembebasan dosa seperti Annual Purge Day (The Purge, 2013). Sayang seribu sayang, bukan seperti itu.

Jangan terlalu berharap hanya dengan menahan lapar haus dari fajar hingga senja, mengulanginya 30 kali, lalu di akhir bulan semua dosa kita akan ter-reset. Sayang sekali tidak sesederhana itu.

Menjadi suci yang kita bayang-bayangkan tidak berada di akhir bulan, diam menunggu untuk disapa. (atau bahkan meminta dibuatkan caption lebaran ala ala untuk di post di media sosial.)

Menjadi suci itu perlu diciptakan. Dalam 30 hari yang kita lalui, sebelumnya dan/atau setelahnya. Bekerja, Belajar, Beribadah. Apapun yang menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Menjadi suci adalah sebuah proses. Klasik.

Lalu, apa yang telah kita lakukan untuk mengisi Ramadhan tahun ini dan apa yang telah kita pelajari selama 30 hari tersebut?

Apakah sebatas menahan lapar haus, dan turun berat badan sebanyak 10 kg?

Apakah mengisi dengan analisis filosofi formasi 3-5-2 Italia di EURO 2016?

Atau jangan-jangan hanya diisi dengan buka bersama, yang mungkin jumlahnya jauh lebih banyak daripada shalat Tarawih yang kita dirikan? Waduhhh.

Sebetulnya pertanyaan/pernyataan semi-sarkas di atas tidak terlalu penting. Yang berlalu biarlah berlalu. Yang cukup perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menjawab 2 pertanyaan berulang yang masih terus tersisa, yaitu:

1. Apa yang telah kamu pelajari pada tahun ini?

2. Apa persiapanmu (apabila diizinkan bertemu) untuk Ramadhan berikutnya?

Akan sangat merugi seorang siswa apabila nilai remedialnya tidak lebih baik daripada nilai ujian sebelumnya. Akan sangat merugi apabila seorang manusia tidak menjadi lebih baik dengan kesempatan yang diberikan berikutnya. Betul atau Betul?

Kalau sama saja, ya berarti kita kurang lebih 11-12 Boris Johnson dan Donald Trump.
Kalau tiap bulan Ramadhan tidak lebih baik, ya berarti mirip Rangga, 12 Purnama engga ada bedanya.

Cerita dengan epilog yang selalu sama akan sangat membosankan.

Maka dari itu, silahkan persiapkan jawaban terbaik dari pertanyaan tersebut. Semoga kita (termasuk saya) tetap banyak belajar dan tergerak untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik selama dan setelah bulan Ramadhan.

Selamat Bermudik Ria. Selamat Lebaran dan “Lebaran”.
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Selamat Hari Raya Idulfitri 1437 H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s